setelah kepergian huznu dari sudan membuat kami sedih sejenak, haha karena esok kami tidak lagi pulang bersama seperti saat kami datang ke sudan.
banyak suka duka yang kami rasakan saat kami mengurus berkas² penetapan dan pengesahan kami sebagai mahasiswa di IUA, dari berdesak²an dg org² afrika, juga berdiri mengantri berbaris diluar kantor ditemani trik matahari ala bara api, hehe.
hari ini kami dikejutkan dengan saudara kami yg akhwat bahwa dia tertimpa musibah penyakit TBC, rasanya belum lama huznu meniggalkan kami disudan utk selama²nya (pulang ke indo dan ga balik² lg) kini annisa harus menyusul kembali ke indonesia krn penyakitnya dan tempat pengobatannya yg tidak bersahabat, juga keluarga yg jauh menjadikannya kendala akan dia tetap disini.
aku memang sempat diangkat menjadi amir perjalanan selama dari indonesia ke sudan, namun mngkin akan tetap menjadi amir sampai angkatan kami pulang kembali ke indonesia. mereka selalu saja menjawab akulah amirnya ketika para senior menanyakan tentang siapa amair utk angkatan baru.
naluriku mungkin terlihat seperti aku mencintai nisa, padahal aku hanya berharap apa yg diembankan ust kpd ku tidak ku permainkan. apalagi ketika mendengar nisa sakit, rasanya ingin sekali menjaganya setiap saat sampai ia lekas sembuh, tapi sudan bukan indonesia dan perbedaan itu mbuatku berfikir dua kali utk melakulan hal demikian.
pernah suatu saat adik kelas ku menyindirku tentang nisa, apakah aku menyukainya atau tidak? agar tidak ada prasangka yang tidak² maka lelas kujelaskan kalau aku tidak menyukainya melainkan hanya sebatas aku sebagai amir, dan berharap ini akan terus berlangsung sampai dia mendapat seseorng yg lebih baik dariku.
terkadang aku juga sukan kesal dengannya, selalu saja menolak memberiku no hp akhwat lain kala kuminta padanya, begitu juga dengan hida mereka sama saja, yah aku kan masih muda jadi rasanya centil sedikit tidak apa², haha. prasangka baikku lekas menimpali dan menduga mngkin Allah hendak melindungiku dari derita pedihnya Cinta kala tak terlaksana hanya sampai dibibir saja.
namun huznu, org spertinya bisa dia beri dengan suka rela no hp akhwat yg cantik pula, hemm membuat aku jadi makin kesal saja. sayangnya ketika aku mencoba berkenalan dg akhwat itu, sama saja dia mengacuhkan sikap baikku, yah akhirnya tinggalkan niatku utk PDKT dengannya.
sepuluh bulan berlalu, namun aku masih saja seperti ini, tidak ada yang bertambah dari ilmu bahkan semakin parah, terlebih dalam masalah menggunakan smartphone yg berdata. sosmed itu rasanya sperti magnet yg sulit ditinggalkan sejenak saja walau sehari. aku memang tdk seperti mereka yg mampu mengendalikan diri atas kehendak smartphone.
aku memcoba memutuskan meninggalkan smartphone dan menggunakan hp biasa, berharap kesungguhanku mencari ilmu lebih bergairah. selalu ada ketenangan dibalik hal buruk yg ditinggalkan. khortum 01-07-2016 M/ 26-08-1437 H.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar